Minggu, 24 Agustus 2008

A Journey to Balerejo



Sleeping Buddha : Patung Buddha yang ada di Vihara Dhamma Sasana



Relief : Sang Buddha ketika diserbu oleh Mara


Satu-satunya : Dhammasala terbuka yang ada di Balerejo


Pada tanggal 16-18 agustus 2008, Vihara Eka Dharma Loka bekerjasama dengan Vihara Dhammadipa mengadakan kegiatan Bakti Sosial ke beberapa vihara yang ada di Blitar. Kegiatan ini diikuti oleh 60 orang yang terdiri dari panitia Baksos dan umat dari Edhaka (Eka Dharma Loka,red) dan Dhammadipa. Peserta diminta berkumpul di Vihara Dhammadipa pada hari sabtu pukul 19.00, baru kemudian berangkat bersama-sama dengan menggunakan bus dan mobil pribadi. Perjalanan dari Surabaya ke Blitar memakan waktu kurang lebih 4 jam, sehingga rombongan Baksos baru tiba sekitar pukul 23.00. Malam itu, rombongan menginap di Vihara Dhamma Sasana, Blitar. Sebelum tidur, semua rombongan terlebih dahulu melakukan puja bhakti yang dipimpin oleh Bhante.
Kesokan harinya, acara sudah dimulai pada pukul 06.00, diawali dengan puja bhakti. Setelah itu rangkaian acara Baksos langsung dilakukan di 3 vihara, yaitu di Vihara Dhamma Sasana, Vihara Buddha Sasana dan Vihara Samaggi Jaya. Orang-orang yang menerima baksos merupakan para gabungan umat yang ada di beberapa Vihara di Blitar.


Tempat terakhir yang dikunjungi dan menjadi tempat peristirahatan adalah Panti Semedi Balerejo. Panti ini berada pada ketinggian 550 m dari permukaan laut dengan luas hampir 100.000 m2. Di tempat yang khusus untuk melakukan meditasi ini, para peserta sempat melakukan acara Jurit Malam di sekitar area Panti Semedi Balerejo.
Pada hari terakhir, rombongan mendapatkan kesempatan untuk melakukan Meditasi di Dhammasala Terbuka, yang hanya ada satu di Indonesia. Meditasi ini dipimpin langsung oleh YM. Bhante Uttamo Thera. Setelah itu diadakan diskusi Dhamma dengan tema "Diktator, Perlu atau Tidak ?". Diskusi ini merupakan acara yang paling dinantikan oleh semua peserta, karena nara sumbernya merupakan Bhante Uttamo, yang cara penyampaian banyak disukai orang dan tak jarang mengundang gelak-tawa. Selesai diskusi, para peserta diberikan waktu untuk berkeliling melihat keindahan dan kemegahan Panti Semedi Balerejo.
Sehabis makan siang, semua rombongan bertolak ke Surabaya.

Jumat, 22 Agustus 2008

Penyelamat Muka Indonesia



 

Lagu kebangsaan Indonesia Raya akhirnya berkumandang pada perhelatan akbar Olimpiade. Ya, pasangan pebulutangkis indonesia di nomor ganda pria, Markis Kido dan Hendra setiawan,
berhasil menyelamatkan muka Indonesia di olimpiade Beijing. Perolehan satu emas ini sekaligus menjaga tradisi emas yang selalu diperoleh Indonesia sejak Olimpiade pertama kali digelar.Kemenangan ini diperoleh Kido/Hendra setelah berhasil mengandaskan wakil tuan rumah, Cai Yun dan Fu Haifeng 12-21, 21-11, 21-16. Kido/Hendra tampil menawan dihadapan ribuan pendukung tuan rumah (16/8). Dengan ini, Kido/Hendra berhasil mengawinkan gelar Juara Dunia 2007 yang dihelat di Kuala Lumpur, Malaysia dan Juara Olimpiade Beijing 2008. Raihan kedua gelar ini menahbiskan Kido/Hendra sebagai pasangan ganda pria nomor satu dunia. Uniknya, kedua gelar tersebut diraih pada bulan yang sama, Agustus, dan kebetulan Kido/Hendra berulang tahun di bulan Agustus. Boleh jadi emas ini menjadi kado manis di ulang tahun mereka.
Di nomor tunggal wanita, Maria Kristin menbuat kejutan dengan berhasil memperoleh satu perunggu dengan mengalahkan wakil tuan rumah Lu Lan. Hasil ini di luar perkiraan, karena Maria hanya ditarget untuk masuk babak 16 besar. Selain itu, pasangan ganda campuran Lilyana Natsir/Nova Widianto, yang diharapkan mampu menyumbangkan satu emas, hanya memperoleh perak, setelah dikalahkan oleh pasangan Korea Selatan. Sedangkan di nomor tunggal pria yang juga diharapkan mampu meraih emas, tidak menyisahkan satu pun wakil difinal. Taufik Hidayat sudah terlebih dahulu tersisih di babak penyisihan, sedangkan Sony Dwi Kuncoro kalah pada babak utama. Hal ini tentu saja mengecewakan banyak pihak, termasuk sang pelatih.
Pada tanggal 19 agustus, seluruh rombongan pebulutangkis telah tiba di Indonesia dan disambut meriah oleh pengemar beserta sanak keluarga.

Rabu, 20 Agustus 2008

Balada gembok rusak

tadi pagi waktu me n my bro' mau berangkat kuliah, tiba2 aja gembok pagar rumah gua kagak bisa dibuka, seperti ada yg nyumbat di dalamnya. dengan sigap, Mbak Mia langsung berlari ke belakang untuk mengambil pelumas dengan harapan gemboknya bs kebuka. tapi, sampe pelumas itu sudah habis satu botol pun kuncinya tetep g bisa masuk ke gembok sepenuhnya, walaupun sudah ditambah dengan aksi congkel-menyongkel. krn merasa ini di luar kemampuan kami, maka diputuskan lah untuk memanggil sang 'juru kunci'. untuk memanggil sang 'juru kunci', my bro' harus mesti dan terpaksa memanjat pagar rumah biar bisa keluar. untung aja waktu bro' manjat pagar g da yg teriak 'maling.......maling.....'
selang 10 menit, bro' berhasil membawa pulang si 'juru kunci'. setelah mencoba membuka gembok dari luar dan tetep aja g bisa kebuka, 'juru kunci' memutuskan untuk memanjat pagar dan masuk ke dalam. untungnya lg, si 'juru kunci' juga g diteriakin maling oleh orang2 yg lewat.
setelah melalui serangkaian eksperimen dan uji laboratorium, voilaaa.... gemboknya pun bisa kebuka. saat itu waktu sudah menunjukkan hampir pukul 8. my bro' yg awalnya emang udah telat krn asyik dandan, tambah telat lg gara2 ini. untungnya hr ini gua cm ngumpulin tugas, jd g buru2 berangkat. fiuh........

Jumat, 15 Agustus 2008

Semangat Hidup.....???


(TMMB Project)

demikian telah kupetik sebuah pelajaran dari drama korea 'Hwang Ji Ni'......

gua nntn drama korea yg judulnya Hwang Ji Ni.
pelajaran apa yg gua dpt????
beginilah ceritanya:
alkisah ada 2 padepokan tari yg saling bersaing untuk menampilkan tarian terbaik yg dapat memikat dan menghibur para penontonnya, khususnya kaum bangsawan. 2 kepala padepokan ini merupakan pesaing abadi, sedari mereka remaja, saat mereka sama-sama belajar menari pada guru yang sama, hingga saat mereka memiliki padepokan tari sendiri. di saat yg satu menampilkan tarian yg mendapatkan pujian dari bangsawan, yg lain tdk ingin kalah dan menampilkan juga tarian yg tdk kalah hebatnya. mereka berusahan saling mengalahkan. mereka berdua saling tahu sifat dan watak masing-masing.
namun........
apa yg terjadi??
saat salah satu kepala padepokan tersebut meninggal akibat bunuh diri, kepala padepokan yg lain meratapi kepergian pesaingnya. dia tdk dapat menerima kenyataan pahit ini.
lalu kemudian dia berkata:
"pesaing abadiku sudah mati..."
"tdk lama lg aku akan menyusulmu...."
"untuk apa aku hdp lg jika pesaingku sdh mati?"


PELAJARAN MORAL :
dari cerita diatas, yang membuat kepala padepokan itu memiliki semangat hidup yaitu pada saat dia berlomba dengan pesainnya untuk menampilkan taria2 terbaik, sehingga pada saat pesainnya meninggal, dia menjadi kehilangan sesuatu yg membuatnya ingin terus hidup.
'sesuatu' yang dpt membuat kita terus bertahan dan membuat hidup kita berarti, yg dinamakan semangat hidup.

jadi, apakah kalian memiliki 'sesuatu' itu?

Rabu, 09 Juli 2008

Hwang Ji Ni

Drama korea yang satu ini benar-benar menyentuh. mengambil tema masa korea pada jaman dulu, seperti pada film Jewel in the Palace, drama ini masih menggunakan hanbook sebagai kostumnya. jika jewel in the palace bercerita tentang masak-memasak dan kedokteran, Hwang Ji Ni mengambil konflik status sosial, dimana seorang penari atau yang biasa disebut dengan Gisaeng, tidak berhak mendapatkan cinta dari kaum bangsawan. Ji Ni merupakan salah satu Gisaeng yang mengalami hal ini. dan seperti kebanyakan drama korea lainnya, Hwang Ji Ni juga diwarnai dengan adegan mengharukan. ada 2 scene yang paling mengharukan, yaitu pada saat Eun Ho, first love dari Hwang Ji Ni, meninggal akibat perjuangannya dalam mempertahankan hubungan beda status sosial mereka. yang satu lagi yaitu pada saat guru tari Ji Ni, Baek Mo, bunuh diri karena ingin menghindarkan Ji Ni dari pernikahan yang tidak diinginkannya dengan seorang keturunan kerajaan.
episode ini benar-benar mengharukan, sampai-sampai aku juga berlinangan air mata dan menghabiskan sekotak tisue, eh becanda, cuma 4 lembar tisue doank kok.
tapi suer.....adegan ini emang sangat2 menyedihkan, apalagi waktu Baek Mo menari saat sebelum dia bunuh diri, tarian ini terkenal dengan tarian bangau/sword dance, tarian yang tidak pernah terselesaikan. trus lebih sedih lagi waktu jasad Baek Mo dibawa ke padepokan tarinya. disana semua penari menangisi guru mereka yang sudah terbujur kaku, tak terkecuali Ji Ni.
"bangun......bangun guru......."
"kamu pecundang karena sudah bunuh diri dan lari dari masalah..."
"bangun guru....!!!"
kemudian Ji Ni menangis sesunggukan dan mengguncang-guncang tubuh gurunya yang sudah tidak bergerak lagi.
saat abu jenasah Baek Mo ditaburkan di laut, Ji Ni datang dengan memakai pakaian lengkap seorang penari dan dengan wajah di rias catik. semua penari yang memakai baju putih-putih tanda berkabung, langsung terperanjat saat melihat kedatangan Ji Ni. banyak yang menganggap kematian Baek Mo karena sikap Ji Ni yang sombong.
"lihat, apa-apaan dia, memakai baju seperti itu"
"seharusnya dia yang paling sedih dengan kepergian guru"
"berani-beraninya dia berpakaian seperti itu"
seorang penari kemudian mengambil segengam batu dan ingin melemparkannya ke Ji Ni
"jangan tahan aku untuk membunuhnya !!"
"hentikan !"
"lihatlah dia.....dia menari.....dia menari tarian bangau"
"tarian yang tidak pernah terselesaikan oleh Baek Mo"
"Ji Ni menyelesaikan tarian itu sebagai penghormatan terakhir....."
semua penari terdiam dan terpaku menyaksikan tarian Ji Ni.
Ji Ni menarikan bagian yang tidak pernah terselesaikan itu sambil menahan air matanya dan mengingat kembali masa-masa saat dia bersama gurunya.



I'll buy all of the DVD soon.